Arti, Sejarah dan Asal Mula Hari Valentine

facebook twitter

Asyik…sebentar lagi bulan Februari, tentunya sudah tahu donk kalo di bulan Februari ini ada 1 hari spesial? Hari apakah itu? Tentunya semua sepakat menjawab hari itu adalah “Hari Valentine”.

Siapa sih yang gak kenal dengan hari spesial ini…Bagi anak muda terlebih yang sudah punya pasangan pasti hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu. Lantas tahukah Anda seperti apakah sejarah hari valentine? Yuk simak terus cuplikannya di bawah ini.

Sebenarnya hari valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari itu merupakan hari peringatan terhadap dihukum matinya seorang pahlawan kristen yaitu: Santo Valentine, kejadian ini terjadi tepat pada tanggal 14 februari 270 M. Mamang seharusnya ini adalah hari peringatan atau hari besarnya umat kristiani. Namun hingga saat ini hari valentine (valentine days) biasa dirayakan oleh seluruh umat di dunia ini tanpa memandang ras, agama maupun kepercayaan. Semua sepakat mengatakan bahwa hari valentine adalah hari kasih sayang.

valentine
valentine

Kok bisa dikatakan sebagai hari kasih sayang? Bagaimana ceritanya? Yuk simak kisahnya di bawah ini.

Sebenarnya tentang hari valentine itu sendiri banyak terdapat versi yang menceritakan, ada yang bilang hari itu adalah hari sesembahan bangsa Romawi, tapi kalo saya lebih prefer ke kisah di bawah ini. Kenapa? Sesuai dengan tema cinta dan kasih, dan cerita inilah yang menurut saya paling masuk akal.

Tanggal 14 Februari 269 M dahulu kala meninggallah seorang pendeta kristen yang juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan yang bernama Valentine. Alkisah, Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Valentine sendiri sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Keinginan Claudius tidak didukung oleh banyak orang karena jika pria ikut dalam peperangan berarti dia rela meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya.

Sejak kematian Valentine (14 februari), kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan.

Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu Santo Valentine.

Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan “Valentine Days”

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.

Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Sesuai perkembangannya, Hari Kasih Sayang tersebut menjadi semacam rutinitas ritual bagi kaum gereja untuk dirayakan. Agar tidak kelihatan formal, peringatan ini dibungkus dengan hiburan atau pesta-pesta.

Nah itulah sepenggal sejarah atau asal mula hari valentine yang didalamnya mengkisahkan seorang pendeta di bawah kepemerintahan pemimpin yang kejam yang tak kenal belas kasih. Ia terkena hukuman mati karena telah menikahkan sepasang kekasih padahal pada saat itu pernikahan adalah sesuatu yang dilarang. Nah, bagaimana tanggapan anda? Apakah hari valentine ini layak dijuluki sebagai hari cinta dan kasih bagi seluruh umat di dunia???

Leave a Reply

Your email address will not be published.